Tata-Cara-&-Perbedaan-Haji-dan-Umroh

Tata Cara & Perbedaan Haji dan Umroh

Haji dan umroh, menurut pendapat yang paling kuat dari para ulama, keduanya merupakan ibadah mulia yang wajib dilaksanakan satu kali bagi kaum muslimin yang mampu. Hal ini berdasarkan dalil:

وَأَتِمُّواْ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّهِ

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (Qur’an Surat Al Baqarah, ayat 196). Menyempurnakan kedua ibadah tersebut merupakan maksud dari ayat ini. Penggunaan kata perintah pada dalil ini menjadikan haji dan umroh hukumnya wajib untuk dilaksanakan.

Sebelum masuk pada pembahasan perbedaan haji dan umroh pada rukunnya, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan rukun. Rukun adalah hal yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan (dalam hal ini ibadah).

Dilihat dari rukunnya, perbedaan haji dan umroh terletak pada wukuf di Arofah,yaitu ibadah yang hanya dilakukan saat melaksanakan haji. Wukuf di Arofah termasuk yang paling penting karena hukum wukuf adalah wajib dan tidaklah sah ibadah haji seseorang jika ia luput melakukannya. Jika seseorang tidak melaksanakan wukuf, ia harus menggantinya pada saat melakukan ibadah haji di tahun yang lain. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa salam:

الْحَجُّ عَرَفَةُ

Haji adalah wukuf di Arofah.” (HR. An Nasai no. 3016, Tirmidzi no. 889, Ibnu Majah no. 3015. Syaikh Al Albani berkata hadits ini shahih).

Wukuf berarti hadir dan berada di daerah mana saja di Arofah baik dalam keadaan terjaga, tidur, berkendaraan atau berjalan, duduk, berbaring, juga dalam keadaan suci atau tidak suci (seperti sedang nifas, junub, haidh) [Fiqih Sunnah, 1: 494]. Waktu yang terhitung wukuf di Arofah dimulai pada waktu zawal (saat matahari tergelincir) pada tanggal sembilan Dzulhijjah (hari Arofah) hingga masuk waktu Shubuh pada hari ketika tanggal sepuluh Dzulhijjah (disebut juga hari nahr). Berdasarkan kesepakatan para ulama, jika seseorang wukuf di Arofah tidak pada waktu tersebut, maka wukuf tersebut dinilai tidak sah (lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 17: 49-50).

Dapat disimpulkan bahwa perbedaan haji dan umroh pada rukunnya terdapat pada penambahan satu rukun dalam ibadah haji, yaitu wukuf. Dengan begitu, secara berurutan, rukun haji dan umroh adalah sebagai berikut: Ihram, Wukuf di Arofah (untuk yang haji), Tawaf, dan Sa’i.

Penjelasan mengenai rukun lainnya:

Ihram adalah niatan untuk melaksanakan ibadah haji atau umroh. Hal yang diwajibkan ketika ihram adalah:

  1. Ihram (berniat) dari miqat, melaksanakan niatan haji ketika berada di batas-batas yang ditentukan untuk memulai ibadah haji;
  2. Tidak mengenakan pakaian yang berjahit atau (yang menampakkan/memperlihatkan bentuk atau lekuk tubuh). Laki-laki tidak diperbolehkan mengenakan jubah, baju, penutup kepala, mantel, khuf/sepatu. Sedangkan wanita tidak diperkenankan mengenakan cadar atau penutup wajah dan sarung tangan;
  3. Mengucapkan Talbiyah (sebaiknya dilakukan setelah berniat manasik haji/umroh dan setelah shalat) yang berbunyi: “Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,  aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu). Laki-laki disunnahkan mengucapkan talbiyah dengan suara yang dikeraskan.

Tawaf adalah mengelilingi Ka’bah dalam rangka beribadah. Dalil yang menerangkan tentang tawaf adalah:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj: 29)

Berikut ini adalah syarat-syarat tawaf:

  1. Berniat untuk melaksanakan tawaf;
  2. Dalam keadaan suci dari hadats ;
  3. Menutup aurat karena tawaf itu seperti shalat;
  4. Dapat dilakukan dari jauh asalkan masih berada di dalam Masjidil Haram;
  5. Saat melakukan tawaf, posisi Ka’bah di sebelah kiri;
  6. Mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran;
  7. Dilaksanakan secara berturut-turut (jika tak ada hajat);
  8. Tawaf dimulai dari Hajar Aswad.

Sa’i artinya melakukan perjalanan antara Shafa dan Marwah dalam rangka beribadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْعَوْا إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْىَ

Lakukanlah sa’i karena Allah mewajibkan kepada kalian untuk melakukannya.” (Hadits Riwayat Ahmad 6: 421. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata hadits ini hasan).

Syarat-syarat melakukan sa’i:

  1. Melakukan niat;
  2. Sa’i dilaksanakan setelah tawaf (berturut-turut);
  3. Dilaksanakan secara berturut-turut pada setiap putaran, kecuali jika ada kebutuhan untuk berhenti;
  4. Menyempurnakannya dengan cara mengitarinya sebakyak tujuh kali;
  5. Dilaksanakan setelah melakukan tawaf yang benar dan sesuai tuntunan.

Demikianlah tata cara dan perbedaan haji dan umroh pada rukunnya yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam bi shawab.

Sebagai tambahan dari kami, haji dan umroh juga terkenal dengan makanan dan oleh-oleh khasnya seperti kurma, madu, sajadah, karpet, parfum, kacang-kacangan, serta perlengkapan dan kebutuhan lainnya. Kami menyediakan berbagai macam jenis oleh-oleh haji dan umroh tersebut ditambah dengan produk kami lainnya yang bisa Anda dapatkan secara praktis di online store atau toko terdekat kami.

Leave a Comment